Wednesday, April 04, 2007

Jelajah SEA Phnom Penh



Begitu turun dari pesawat di Bandara Pochentong (nama resminya sekarang: Phnom Penh International Airport), langsung saya tertegun. Hmmm..bangunannya seperti gudang, dan sepertinya baru direnovasi. Setelah masuk ke dalam, ternyata lumayan juga loh rada nyaman hehe..
Untuk masuk ke Cambodia orang Indonesia (mungkin semua bangsa ya?) harus mengajukan visa. ‘Untungnya’ bisa visa on arrival di bandara sana. Cuma mahal juga euy, USD 20. Perjalanan bandara-pusat kota berjarak 7 km melemparkan ingatan saya ke pelosok-pelosok kota pedalaman Indonesia. Ya, Phnom Penh berpenduduk dua juta orang, namun skyline kotanya masih biasa-biasa saja, jarang sekali ada gedung bertingkat lima ke atas. Di sana sini pengendara motor tua zig zag nyelap nyelip di antara mobil-mobil (yang tua juga). Temen kamboja yang menjemput saya nyeletuk: feel at home huh? *sialan*
Ada beberapa obyek wisata di Phnom Penh, diantaranya Royal Palace, Musium Nasional, Silver Pagoda dan tentu saja obyek memorial kekejaman Khmer Merah: Tuol Sleng dan Choeung Ek.
Tuol Sleng merupakan ‘penjara’ bagi orang-orang yang tidak sepaham dengan Khmer Merah. Aslinya bangunan ini merupakan sekolah puteri yang kemudian ruang kelasnya disekat-sekat dijadikan sel tahanan. Beberapa kelas dijadikan ruangan penyiksaan lengkap dengan alat-alat penyiksanya yang masih tersisa. Hmm..mengingatkan kita pada kekejaman PKI.
Chuong Ek dikenal juga dengan nama killing field, sebuah kawasan/kamp tahanan sedikit di luar kota. Di sini kita bisa lihat kuburan massal, dari balita sampai orang dewasa, dan sisa-sisa alat pembantaiannya. Setelah pembantaian reda, kuburan-kuburan ini digali dan tengkorak-tengkoraknya dikumpulkan di bangunan khusus (mirip pagoda) untuk mengingatkan generasi selanjutnya agar kejadian seperti itu tidak terulang lagi.

|