Andai..
dear a very bestfriend of mine,
maaf yang sebesar-besarnya karena selama saya di negeri orang, saya tidak pernah menelponmu.
karena nomor telponmu tak terbawa dan alamat emailmu tidak ada di mail address listku.
seharusnya saya bisa mencarinya lewat teman yang lain. tapi tidak, saya tidak melakukannya
bahkan untuk menyapa kabarmu. dan saya amat sangat menyesalinya saat ini.
saya masih ingat pertama kali kita bertemu lima tahun lalu, di asrama diklat di jawa tengah.
waktu itu kita diatur panitia untuk tinggal dalam sekamar. Pertama kali bertemu dan berkenalan,
sama sekali tidak terbersit bahwa ada sesuatu yang istimewa pada dirimu. tapi dari hari ke hari selama satu bulan,
saya menemukan begitu banyak hal-hal yang menakjubkan darimu. kebaikan tak berbatas, kesantunan bertutur kata,
semangat hidup yang berkobar-kobar dan segenggam impian yang siap kamu raih, membuat kamu begitu berbeda
dengan yang lain. masih jelas terekam di benak perbincangan kita
tentang pekerjaan, cita-cita, dan tentu saja tentang cewek-cewek..hehe..
saya juga masih ingat, waktu selesai diklat itu kita naik argo bromo ke surabaya di lokonya
(haha..jadi tahu cara2x ngoperasikan kereta sekarang). setelah itu kita ke batu-malang, ke rumahmu.
sebuah rumah di pucuk bukit, dengan dikelilingi kebun apel milik keluargamu.
oh ya, terima kasih telah memperkenalkan kepada keluargamu. tidak heran mencari
dari mana asal kehangatan dan sikap persahabatanmu. keliling kota, berenang di
air panas, dan memetik apel di pohonnya jadi pengalaman yang tak terlupakan. apalagi dengan oleh-oleh apel sekarung (!) untuk saya dan teman-teman di bandung..
bulan ke bulan selalu saja ada kejutan darimu. kiriman tas ransel dari tanggulangin (sudah saya pakai menjelajah tuh),
kiriman sekardus apel dan manisannya, kemudian kabar menikah, meninggalnya bapak, kelahiran anak pertama, dan
beasiswa ITS...reminded me that I have a brother over there.
Minggu lalu saya ketemu pak made, yang dari sulawesi, masih ingat? dia menanyakan kabarmu.
olin juga tanya2x tentang kamu. dengan pedenya saya bilang kamu baik-baik saja tapi belum selesai kuliah.
padahal sejujurnya saya tidak tahu kabarmu setahun lebih ini.
tadi saya nemu buku agenda lama, dan dapat nomor telpon rumah mertuamu.
tidak sabar saya ingin menelponmu, untuk menanyakan kabar kuliah, istri, anak dan kebun apelmu.
langsung saya telpon istrimu:
+assalamualaikum mbak, apa khabar? bagas nih..
-waalaikumsalam, eh mas bagas, udah pulang mas?
+udah mbak, udah selesai alhamdulillah. masnya mana?
-lho mas, belum tahu?
+apa mbak?
-...masnya kan sudah gak ada... *nada suaranya memelan*
+maksudnya apa? *please 'gak ada' means sedang di luar kota, di luar negeri, or whatever, even you've lived
separately*
-masnya sudah meninggal tahun lalu, kena jantung.. *suara terisak di seberang telpon sana*
....
**gelap**
mas rudik, semoga Yang Kuasa mendekapmu disana.
<< Home