TSJ I Kuching: Gak Ada WC Umum!

Tidak banyak info di web yang bisa kita dapatkan kalo kita mau jadi seorang backpacker alias..turis sandal jepit (TSJ). mumpung masih inget, ini pengalaman jalan2x ke kuching, malaysia. siapa tahu ada yang butuh juga ;p
Perjalanan pontianak - kuching dapat ditempuh dengan menggunakan pesawat atau bus. pilihan paling murah tentu saja pake bus, baik tiket maupun fiskalnya.
cukup banyak bus yang melayani jalur ini, seperti SJS, DAMRI, ATS, atau bus malaysia tebakang dan lainnya. tarif semua bus sama Rp. 140.000,- eksekutif dan Rp. 200.000,- super eksekutif. hampir semua bus berangkat dari pontianak pukul 21.00 (malam) atau 07.30-.8.00 (pagi).
sebagai backpacker, spending money untuk bermalam di hotel tentu harus dihindari, sehingga perjalanan malam menjadi pilihan ;p
lagian tidak banyak yang dapat dilihat sepanjang pontianak - entikong. entikong sendiri adalah pintu di wilayah indonesia, yang di kiri-kanannya sudah ramai terbangun rumah-rumah penduduk dan warung-warung yang menjual berbagai barang.
tiba di entikong pukul 04.00. ternyata, pintu imigrasi baru buka jam 05.00, sehingga para penumpang bus menumpuk di gerbang imigrasi. begitu jam 05.00 teng..para penumpang berlarian menuju loket-loket imigrasi dan satu persatu diperiksa dan dicap paspornya.
rata-rata tidak lebih satu menit pemeriksaan di imigrasi indonesia, kecuali kang bagas yang paspornya dibolak-balik selama 5 menitan. bingung juga kenapa, padahal foto di paspor meskipun gak pakai kacamata tidak mirip teroris. malah lebih mirip ari wibowo..hoeekk..hoeekkk..
alhamdulillah akhirnya lolos juga, gak bayar fiskal lagi (denger2x kalo darat cuma bayar 250 ribu, nyatanya gratis..huhuyyy!)
Imigresen dan bea cukai malaysia juga lumayan cepet, dan gak bertele-tele seperti pernah saya alami di Kuala Lumpur International Airport (KLIA) beberapa tahun lalu.
setelah semua beres bus segera meninggalkan tebedu (pos imigrasi sisi malaysia), dan mulailah wisata mata berpesiar..kanan kiri hutan nan hijau, dengan halimun yang masih tebal.
*heran, padahal sudah jam 7-8 pagi, tapi kabutnya tebal, pantes aja hutan borneo mereka sering dapat penghargaan kelestarian lingkungan hidup
tiba di terminal bus, langsung panggil taksi untuk ke pusat kota. biayanya RM 17, takde metered ni? takde lah, di kuching mana ade metered teksi! oalahhh..kita lebih maju tho ;p
dengan RM 17 (Rp. 42.500,- atau agen bus mah cuma RM 15) tadinya berharap pusat kota agak jauh dan bisa banyak tempat yang bisa dilihat. ternyata, gak sampai 10 menit, si taksi sudah sampai ke obyek pertama: Sarawak State Mosque.
untuk ukuran malaysia, masjid negara bagian (selevel propinsi) ini tidak begitu megah. dibangun tahun 1968 untuk menggantikan masjid kayu sebelumnya yang dibangun tahun 1852. sayangnya, dindingnya kusam, seperi sudah lama tidak dicat ulang.
berbeda sekali dengan foto di brosur yang sangat agung. oh ya, flashback, sewaktu kuliah S1 dulu ada rombongan mahasiswa Universiti Teknologi Malaysia (UTM) yang datang ke Bandung, kerjasama teknologi dan promosi pariwisata malaysia.
bertahun kemudian brosur tiap negara bagian yang mereka berikan sangat bermanfaat ketika menjelajah negeri ini.
cabut dari masjid, bergegas saya ke indian street mall, hmmm.. mirip-mirip pasar baru jakarta atau dalem kaum bandung dalam skala yang jauh lebih kecil. cuma bedanya, bangunan toko-toko disini semua dipreserve keasliannya dan semuanya dua tingkat saja.
lamat-lamat saya dengar reffrain sebuah lagu dari sebuah toko yang rasanya saya kenal...jujurlah padaku bila kau tak lagi cinta...*wakwawww*
di ujung jalan ini langsung kita ketemu dengan Court House, yang dibangun tahun 1874 dan dijadikan sebagai gedung pemerintahan. tahun 1883 jam besar di dinding itu ditempelkan, dan tahun 1924 tugu peringatan Rajah Charles Brooke didirikan (foto 1).
lho kok namanya rajanya inggris banget yak? biasalah bule mah devide et impera tea, ceritanya dulu sarawak itu di bawah kesultanan brunei, dan sarawak ini berontak. nah si james brooke yang datang ke sarawak tahun 1839 mau menumpas pemberontak dengan imbalan.
pemberontakan dipadamkan dan dia dijadikan sebagai raja serawak (1841). orang2x manggilnya white rajah (raja bule). tahun 1868 si james digantikan keponakannya, ya si charles tadi.
di depan court house ada lapangan kecil untuk bersantai menghadap sungai serawak. di lapangan ini ada bangunan kolonial kecil bernama square tower yang penggunaannya pernah jadi penjara, menara pengintai, bahkan perbah jadi hall dansa!
persis di sebrangnya, di sebrang sungai, tampak bangunan berarsitektur tropis bernama Astana (foto 2), alias istana yang dibangun tahun 1870 oleh Rajah Charles Brooke sebagai hadiah perkawinan bagi istrinya Ranee Margaret Brooke (disamping istana ini ada benteng yang kemudian dinamai Margherita).
Saat ini istana tersebut ditempati oleh Kepala Negara Bagian Serawak, dan masih dipakai untuk acara-acara negara bagian Serawak.
ada beberapa obyek menarik lainnya yang bisa dinikmati sambil jalan kaki, karena ternyata kuching itu kotanya kecil sekali.
Oh ya hati-hati, di malaysia tidak ada WC Umum! terus kalo kebelet kemana dong? ya pergilah ke tandas awam...;p
<< Home